Proses pembuatan game secara industri biasanya dibagi menjadi tiga fase utama: Pra-Produksi, Produksi, dan Pasca-Produksi.
1. Pra-Produksi (Pre-Production)
Ini adalah tahap perencanaan dan merupakan fase paling krusial untuk menentukan arah proyek.
Brainstorming & Konsep: Menentukan ide dasar, genre, dan core loop (mekanisme utama).
Market Research: Menganalisis tren pasar dan siapa target audiensnya.
Penyusunan Game Design Document (GDD): Dokumen cetak biru yang berisi detail mekanik, cerita, karakter, hingga rencana monetisasi.
Prototyping: Membuat versi sangat sederhana (seringkali hanya kotak-kotak atau greyboxing) untuk menguji apakah ide tersebut benar-benar seru saat dimainkan.
2. Produksi (Production)
Fase terpanjang di mana seluruh aset dan kode digabungkan.
Game Design: Perancangan level (level design) dan sistem ekonomi dalam game.
Programming: Penulisan kode untuk logika permainan menggunakan bahasa seperti C++, C#, atau Python di game engine (Unity, Unreal, dll).
Art & Audio: Pembuatan model 3D/2D, animasi, tekstur, efek visual (VFX), serta musik dan efek suara (SFX).
Integration: Menyatukan semua aset visual dan audio ke dalam sistem pemrograman.
3. Testing & QA (Quality Assurance)
Sebelum rilis, game harus melewati tahap pengujian yang ketat.
Bug Tracking: Menemukan kesalahan teknis atau glitch.
Balance Testing: Memastikan tingkat kesulitan game sudah pas (tidak terlalu mudah/sulit).
Alpha & Beta Testing: Memberikan versi awal kepada sekelompok kecil pemain untuk mendapatkan umpan balik.
4. Pasca-Produksi (Post-Production)
Setelah game diluncurkan, kerja tim belum selesai.
Maintenance: Memperbaiki bug yang ditemukan pemain setelah rilis.
Update & DLC: Menambahkan konten baru agar pemain tetap tertarik.
Marketing: Terus mempromosikan game untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Visual Journal